Tuesday, November 29, 2011


Aku Lemah!

...

Pernah merasa demikian? #gk jelas

Aku sering :'(

Segumpal darah yang berada di tubuhku ini sepertinya sedang merana
Owh... kasihan sekali dia... hatiku...
Padahal diri ini sering menasehatinya,

"hey, jangan cengeng!"
#nimpuk-diri-sendiri
"bukankah semuanya belum tentu seperti yang kau pikirkan?! Ayolah...
percuma kau menangis... itu tidak akan merubah segalanya...
sekarang coba pikirkan hal-hal yang menyenangkan saja!
Ayo! kau pasti bisa!"

#aku-lemah :'(


*imej-prom-gugel*

0

Sunday, November 27, 2011


Seperti "Kubur"

Judul yang aneh bukan?

Right.

Ini postingan pertamaku tentang "pekerjaanku" or "My Work"

Pekerjaanku... seperti "kubur". Mungkin terdengar menyeramkan. Tapi tenang sodara-sodara. Ini bukan tentang pilem horor atau aku berprofesi sebagai penggali kuburnya. Huwwwaaaaa...... #histeria

Ini tentang pekerjaan pertama yang pernah kutekuni sejak masih di bangku perkulihan dulu. *wait! dulu? perasaan lulus kuliah juga baru bulan oktober kemaren deh, hehe ^^v jangan sok lu mir :p
Jadi begini... dulu... aku pernah bekerja di sebuah Asuransi Syariah. "Asuransi Takaful Keluarga" namanya. Entah bagaimana cerita awalnya aku bisa masuk ke sana *udah lupa, hihi parah :p * dan menjadi TFC aliaz Takaful Finance Consultant. Terdengar keren bukan? Heuhehe... emang keren koq *lah, maksa ini mah
Tau gk pada, itu artinya apa? TFC itu adalah istilah tenaga marketing level dasar, atau bahasa lainnya itu "agen". howaaat?? ternyata mira hanya seorang agen level dasar di Takaful >.< *padahal nyantai aja kenapa sih :(
Nah... ceritanya nih, ntuh kerjaan udah lama banged aku tinggalin. Yach...emang sih di sana cuman TFC doang, gk musti standby di kantor gitu. Dapet komisinya juga klo pas berhasil closing *istilah buat agen dapat nasabah baru* dan sifatnya freelance gitu deh. Jadinya aku gk berasa klo itu adalah pekerjaan, hikz..hikz... T_T
Jadinya aku sering gk serius nyari nasabah. Bahkan parahnya, aku gk pernah nongol lagi ke kantor. Seperti "kubur" kan... aku memperlakukan pekerjaan ini dengan cara yg sangat tidak wajar... *merasa bersalah :(

Jujur, ini bukanlah hal yang kumau. Atau sengaja kulakukan. Ini karena kondisi... Karena aku harus melakukan banyak perkara lainnya... Waktu itu... aku harus menyelesaikan kuliahku... Aku juga menjadi pengajar di sebuah bimbel bernama "Fadhilah". Yach, aku tau itu bukan alasan. Tapi, aku adalah tipe yang gk bisa menyelesaikan beberapa perkara dalam waktu yang bersamaan... *kasihan sekali ya diriku

Omegoooottt... ini benar-benar seperti "kubur". Sekali masuk ke sana, engkau tak akan pernah bisa kembali lagi. Dan kini, profesiku sebagai TFC hanya tinggal nama... almarhum. ckckck *geleng-geleng kepala
0

Thursday, November 24, 2011


Bolehkah Menyingkat Salam?

Bismillah...

Ini tentang salam, sodara-sodarah...

Tidak sedikit di antara kaum muslimin dan muslimat yang menggunakan salam secara kurang tepat.
Kalau sedang berbicara face to face biasanya tidak terlalu rawan terjadi kesalahan. Tapi jika mengucapkan (upz, maksudnya menuliskan) salam lewat esemes misalnya, terkadang banyak yang suka menyingkat salam.

"As, Ass, Askum, Akum.."

Tulisan itu m'jadikan salam “Assalamualaikum” m'jadi berubah arti & makna

⁠“As (inggris)” artinya “sebagai”,

⁠“Ass (inggris)” artinya keledai, org bodoh & (maaf) pantat,
⁠

"Askum" artinya celakalah kamu!

“Akum (gelar utk orang2 yahudi)” singkatan dari “Avde Kokhavim U Mazzalot”artinya “Hamba2 binatang & org2 sesat”,
⁠ 
Nah, loh...

Banyak juga alasan si penyingkat salam ini. Ada yang bilang ,"ah, ribet klo nulisnya lengkap, kepanjangan." (padahal apa susahnya coba nulis "Assalamu'alaikum"? toh, tarif esemesnya sama :p )
Ada juga yg bilang ,"kan tergantung niat... kan niat saya untuk nyampaikan salam" (lah, tapi kan belum tentu yg menerima esemes bermaksud sama seperti penyingkat itu. Klo saya mah, membaca esemes sesuai yang tertulis. Jika dia nulisnya "askum" ya, saya bacanya gitu. kan kasian juga, malah gk dapet doa dari salam itu kan? he.)
Ada lagi yang bilang ,"boleh-boleh saja koq (mubah) menyingkat salam, asalkan yang mengirim dan menerima sama-sama mengerti maksudnya. Yang tidak boleh itu ketika menyingkat pelafadzannya, karena akan menimbulkan penafsiran berbeda. Dan ini baru akan menjadi haram jika sengaja dilakukan dengan maksud menghina salam itu sendiri" (Jika memang berhukum mubah, saya mah lebih memilih untuk tidak menuliskannya dalam tulisan yang akan melahirkan makna ganda, apatah lagi di dalamnya sangat memungkinkan ada makna yang tidak kita inginkan. Bukankah tidak semua penerima memahami maksud pengirim? kalau malas menulis salam, ya lebih baik tidak menuliskannya saja. Daripada dapat menimbulkan persepsi yang lain ^^v

Nah... sekarang... bagaimana sebaiknya menuliskan salam jika memang ingin disingkat?
Silahkeuuun... monggo... dengan syarat, tanpa merusak makna salam yang indah dan sarat doa tersebut...
Misalnya dengan menuliskan:
"Assalaam..." yang artinya "Maha Sejahtera" (satu dari nama-nama Allah yang indah -Asma'ul Husna- dalam Surah Al-Hasyr ayat 23)
Karena yang demikian insyaAllah penyingkatan yang benar dan terhindar dari makna yang tidak kita inginkan.
Wallahu ta'ala a'lam...

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh ^_^
0