Saturday, July 21, 2012


.:Mysterious Island:.

Lama nggak nonton.
Eh. Lama? Kurang tepat sepertinya. :D

Aku bisa tergolong manusia yang lebih suka menonton daripada membaca. Mata kadang tak bisa diajak kompromi kalau untuk menjamah kata demi kata dalam tulisan. Kecuali bacaan-bacaan yang ringan. Kalau bacaannya lumayan berat (ex: Sirah para Nabi, Kitab Klasik -____-") jujur aku tak betah jika harus berlama-lama. Bahkan itu bisa dijadikan obat tidur yang ampuh kalau mataku sedang melek di malam hari :D

Kalau nonton? Etdaaah, jangan ditanya. Kalau ada kontes "Tahan Nonton" mungkin aku sudah masuk nominasi sebagai pemenangnya :))
Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, kalau aku sangat menyukai pelem laga. Action. Apa perlu alasan? Aku saja nggak tau persisnya kenapa. Nha, belakangan sejak lulus kuliah, aku malah senangnya nonton pelem korea. *ini pengaruh lingkungan sekitar* <--- alasan :p
Karena pelem korea nggak jauh dari tema percintaan? Ok. Kuakui memang. Puas?!
:D

Selain pelem-pelem laga dan drama korea, aku juga penikmat kopi ABeCe mocca pelem petualangan. *eeeaaa, adventure films holic neh ceritanya :p*
Serius.  Nonton pelem petualangan itu serasa seakan-akan kita ikut berpetualang bersama dalam pelem tersebut. Memecahkan misteri. Menguraikan sandi-sandi. Itu membuat otak kita berpikir. Jadi nggak sekedar menganga *saking seriusnya nonton :D* tapi juga sebagai latihan penyegaran otak. Tambahan, pelem seperti itu juga dapat memicu adrenalin, karena pelem petualangan itu sangat akrab dengan yang namanya rintangan, kejutan, dan berbagai misteri. Intinya, pelem petualangan itu seerrruuuuuu >.<"

Nhaaa, ceritanya tadi aku bongkar-bongkar folder di PC kantor. Ketemu sebuah folder pelem. Pas dibuka, Huwwoooooh! Ada yang serrruuuuuuuuu! <---tereak dalam ati :D
"Mysterious Island"
Itu judul pelemnya. Mengisahkan petualangan seorang pemuda dalam upaya untuk menemukan sebuah pulau misterius, yang tak pernah bisa ditemukan oleh orang-orang sebelumnya. Banyak yang telah mencoba untuk memecahkan misteri pulau itu, namun akhirnya mereka tak ada yang kembali. Dan bagian yang paling aku suka dari pelem ini adalah pada saat dia berhasil menemukan pulaunya. *ya eyalaaaaaah :p* <--dudulz :D
Pulaunya itu indaaaaah sekali. Subhanallah! Dipikir-pikir, mereka syutingnya di mana yak? Sampai sekarang nggak habis-habis mikirnya. He.
Uniknya di pulau itu, berlaku kebalikan. Makhluk yang biasa terlihat besar, di sana menjadi kecil. Dan makhluk yang biasanya kecil, menjadi raksasa di sana.
Gajah, menjadi seperti kucing *bisa dipelihara tuh :))*
Kadal malah jadi raksasa. Lebah bisa difungsikan seperti heli. Bunga jadi lebih tinggi dari manusia. Menakjubkan itu alamnya...pemandangannya... dan yang paling membuatku tertarik adalah air terjunnya >.<"
Doooooh, sayangnya cuma pelem.
Padahal kalau itu nyata, belum tentu juga aku bisa pergi ke sana. Hiiii :D


*saat mataku sudah mulai redup*
zzz...
0

.:Oleh-Oleh Dari BangkaBelitung:.

Kejutaaaaaan! *bunyi terompet*

Jadi ceritanya, si Oma teman yang sekantor denganku baru pulang dari Bangka Belitung. Selain bertugas sebagai Koordinator Unit di tempat kami bekerja, dia juga merupakan guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Sintang, Kalimantan Barat. Nhaaa, sekitar dua minggu yang lalu, waktu liburan sekolah itu dia diminta oleh kepala sekolah untuk mengikuti pelatihan guru *lupa persisnya itu pelatihan apa* di tanah Bangka tersebut. Sebagai konsekuensinya, dia terpaksa meninggalkan tugasnya di kantor kami. Wait! terpaksa? mungkin nggak juga kalli ya :))

Sepulang dari pelatihan itu, dia datang ke kantor. Malam. Sekitar jam setengah delapan begitu. Kenapa ke kantor malam-malam? Yep, pertanyaan bagus, Sobat Kreatif :)
Oma datang untuk memantau kondisi kantor setelah kepergiannya yang cukup lama. Dan aku, kenapa malam-malam begitu masih saja gentayangan di kantor? Eh, bukan apa-apa... Itu karena aku memang tempat tinggalnya di sana, tepatnya di lantai dua. Sendiri. Lagi. Kasihan? Nggak perlu dikasihani :D
Selain untuk alasan memantau itu, dia datang dengan seorang perempuan. Dan betapa kagetnya setelah kulihat ternyata perempuan itu adalah teman lamaku di bangku SMK dulu. Akrab disapa Susan. Tentu saja bukan boneka, heee *sori ye San, aye ngemengin eluh di mari :))*
Dan tanpa aba-aba, kami langsung nyambung. Reuni dadakan inih ceritanya. Banyak hal yang kami share. Yaaah, selaiknya orang yang telah terpisah sejak lebih dari lima tahun. Karena sejak lulus, aku mengalami kendala dalam berkomunikasi. Hape error. Lost Contact.
Alasan klasik, tapi memang realistis! <---semacam pembelaan diri :p
Banyak berbagi dengannya, hingga sampai pada topik hangat seputar orang-orang jomblo. Yep! Apalagi kalau bukan jodoh. -___-"
Tentangku, kurasa nggak perlu kita bahas di sini. Ini tentang Susan. Nhaaa, ternyata.............dia itu akan menikah dengan Oma dalam waktu dekat. *kita doakan sama2 yuk, semoga Allah memudahkan urusan mereka menuju jenjang itu, biar kita juga dimudahkan urusannya dalam hal yang sama* Eh :p

Jadi...kapan nih cerita tentang oleh-olehnya yak? Heheee.
Waktu malam itu justru Oma meminta maaf padaku karena nggak sempat membeli apapun sebagai oleh-oleh dari sana. Well..never mind. Memang sejak awal juga aku nggak berharap akan mendapatkan apapun darinya. Kesibukanku di kantor karena harus merangkap pekerjaannya itu sudah cukup menyita waktuku. Sehingga tak menyisakan ruang untuk mengharap semacam oleh-oleh. Tapi, yang menyenangkan itu adalah di hari berikutnya...
Setelah kami bersibuk ria di kantor karena harus melakukan interview kepada tenaga pengajar baru, dia memberikannya padaku. Oleh-oleh dari Bangka Belitung :))
Sebuah gantungan kunci bertuliskan "Bangka". Sederhana memang. Khas Bangka. Tapi untuk seorang Chidayu, nggak ada kata sederhana untuk sebuah pemberian dari seorang teman. Sekecil apapun itu baginya, atau bagi orang lain, bagiku itu sangat berharga. *apalagi aku souvenir holic stadium tiga :p* <---bukan stadium akhir :D


*Like Thiiiis :)

0

Friday, July 20, 2012


.: Mutasi :.

Mutilasi?
#eh :D

Sudah lama rasanya aku nggak cerita mengenai profesi. He. Maklum, faktor malasnya sibuknya ituh yang menjadi kendala. Beberapa bulan terakhir aku sempat vakum dari dunia per-blog-an. *apaan sih :p*
Baru kemudian di bulan Juli dua ribu dua belas ini mood aku buat nge-blog muncul lagi. Terlebih karena rumahku ini telah mengalami sebuah revolusi besar. :D
*ok. ini lebay*

Baiklah, kita harus kembali ke topik.
Mutasi. Sebenarnya titel alias judul itu kurang cocok buat mendeskripsikan apa yang terjadi dalam episode kehidupan pekerjaanku. Yaaah, secara. Istilah mutasi itu biasa digunakan untuk menggambarkan seseorang yang telah bekerja di suatu perusahaan atau instansi tertentu, lalu kemudian yang bersangkutan dipindahtugaskan ke tempat lain, yang jenis pekerjaannya juga masih dalam ruang lingkup perusahaan atau instansi tersebut. Bukankah begitu, Sobat Kreatif? :))
Nhaaa, berbeda halnya dengan kasusku inih. Awalnya aku bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang properti development #simak di mari* sebagai tenaga administrasi dan keuangan. Belum setahun. Hanya delapan bulan, tepatnya di bulan Mei 2012 aku pun memutuskan untuk mengundurkan diri. Alasannya? Kurasa bukan di sini tempat yang tepat untuk membahasnya. Lain waktu aku ceritakan. Tapi nggak janji juga. *loh* :p
Ok. Aku kasih sedikit bocoran deh. Ini salah satu alasannya. Salah satu loh yaaa. Catet tuh: SALAH SATU.

Selama bulan Mei ditambah dua pekan di awal Juni 2012, aku menjadi pengangguran kelas berat! Ngenes? Kuakui. Bukan maksud untuk menyombongkan diri loh ya, *a'udzubillahimindzaalik* tapi menjadi pengangguran sungguh hal yang tak pernah terjadi dalam hidupku semenjak lulus SMP (dulu jamanku namanya SLTP). Secara, aku yang sudah berpisah dengan orang tua sejak masuk SMA (tapi aku sekolahnya di SMK, he) memang sudah terbiasa pula untuk belajar hidup mandiri dengan penghasilan sendiri. Begitupun masa-masa yang kulalui selama di bangku kuliah. Sekolah dan kuliah sambil bekerja, sudah sangat akrab membersamai episode kehidupanku, Sobat Kreatif...
Jadi, untuk menerima kenyataan bahwa saat itu aku adalah seorang pengangguran tingkat dewa ibaratnya engkau terpaksa menelan sebuah pil pahit demi kesembuhan. Seberapapun pahitnya, tetap harus engkau telan. Sungguh, saat itu aku tak punya pilihan. Dan yang menyedihkan adalah bukan karena aku meninggalkan pekerjaan lamaku tanpa solusi adanya pekerjaan lain. Sama sekali tidak. Aku bahkan sudah diterima di sebuah lembaga swasta yang bergerak di bidang jasa pendidikan. Mudahnya, lembaga itu disebut Bimbel. Lebih terdengar familiar, bukan? He. Aku ditempatkan di bagian Akademik, Front Office (FO) sekaligus Keuangan. *sumpah, berat!* Merangkap tiga jabatan sekaligus menurutku bukan pekerjaan yang bisa dibilang sederhana. Beratnya bukan tentang jenis tugas yang akan dilakukan, melainkan kelelahan yang sudah kubayangkan akan menggerogoti energi tubuhku sebanyak sepuluh jam dalam sehari. Begitulah yang tertulis dalam kontrak kerja bermaterai yang telah dengan sadar aku tandatangani di awal bulan Mei 2012 tersebut. Jadi sebenarnya, sejak mengundurkan diri dari pekerjaan lama, aku telah resmi diterima bekerja sebagai karyawan di lembaga itu. Tapi yang menggenaskan hingga aku menyandang gelar pengangguran adalah karena selama satu setengah bulan sejak penandatangan kontrak kerja tersebut aku masih belum tahu kapan persisnya aku bisa mulai bekerja. Padahal dalam kontrak sudah jelas tanggalnya. Namun gagal total dalam aplikasinya. Aneh bukan? Memang.
Selain menunggu sampai tiba saatnya aku dipanggil untuk mulai bekerja, tak ada yang bisa kulakukan selain memproduksi kesabaran sebanyak-banyaknya. Mencoba berpikir positif, mengambil hikmah dari penantian tersebut dan berharap akan kudapatkan janji manis dari Allah dengan berprasangka baik pada-Nya. Yaaah, bukankah setiap kejadian sudah diatur sedemikian rupa oleh-Nya? dan bukankah tak ada jenis skenario yang lebih baik melainkan skenario-Nya? Sungguh, betapa saat itu aku merasa harus lebih merapat pada-Nya. Tak ada penopang selain-Nya.

Dan lagi-lagi...Allah sangat sayang padaku. Dan Dia memberiku "sedikit" kejutan yang berhasil membuatku benar-benar terkejut. Surprise......!!! *terdengar bunyi trompet dari kejauhan* :))
Tanggal 17 Juni 2012, maghrib (saat itu aku baru pulang dari sebuah agenda di luar rumah), aku mendapat panggilan telpon dari atasan untuk bersiap-siap karena jam 10 malam kami akan berangkat ke Sintang (sebuah kota kecil yang jauh dari ibukota provinsi), dan tentu saja aku akan ditempatkan bekerja di sana. Mengejutkan, kami bukan berangkat jam 10 malam, melainkan jam 1 dini hari !
Kami akhirnya tiba di tempat tujuan sekitar jam 2 siang hari berikutnya. *hitung aja sendiri seberapa jauh kira-kira perjalanan yang kami tempuh* :D

Whatever, Sobat Kreatif... sing penting, sejak hari kami tiba di tempat tujuan, itulah hari pertama aku terhitung mulai bekerja. Yeeeyyy, akhirnyaaaaa aku melepas gelar pengangguran ituuuuuh *lari keliling lapangan sepakbola* #eh :D

Jujur aja, ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di tanah Sintang. Kesan pertamaku untuk kota kecil ini yaaa, mayan... :))
Oh iya, ada kejadian yang cukup membuatku dilematis saat pertama-tama berada di Sintang ini. Akan kuceritakan di pojok lain, insyaAllah :))
Bagaimana pun juga, aku lebih kerasan di tempat sebelumnya, kota Pontianak. He.
Aku hanya berusaha untuk mencintai pekerjaanku saat ini. Seberapapun tidak menyenangkannya, aku harus menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Karena apapun yang kita kerjakan dengan ikhlash dan diniatkan untuk beribadah kepada Allah, niscaya itu dapat menjadi ibadah dan mendapat ganjaran pahala bagi pelakunya. Setidaknya begitulah yang pernah kutahu dari hasil mengikuti kajian keislaman di kampus dulu :))
Mari berdoa bersama agar aku betah dan ikhlas menjalani semua ini. Aamiin...... *yang kenceng dan kompak ya, awas kalo nggak*  <---maksa banged :p


Ada air-cond Di kamarku malam ini
*selimutan*
-Chi-
0